9 September 2011

PERJODOHAN 1# Gadis berambut sebahu

Fajar menikmati wajah di hadapannya itu. Cantik, lembut dan terlihat kekanakan. Matanya bersinar sebagaimana layaknya keceriaan seorang ABG,  memancar tanpa beban kehidupan yang berarti. Bibirnya memerah, asli tanpa polesan lipstik. Wajahnya bersih, putih, mulus tanpa jerawat. Fajar sempat mengira ia pasti pergi ke salon untuk perawatan kulit wajahnya itu. Tapi melihat rambutnya yang tergerai bebas melewati bahunya itu, ia berbalik menentang pendapatnya semula. Kalau orang rajin ke salon, pasti perawatannya meliputi wajah dan rambut. Lha ini rambutnya sekusut tas ransel yang selalu dicangklongnya.
"Apa sih isi tas kamu? Gede sekali?" mulutnya memaksa bertanya begitu kilatan mata gadis itu menyambar ke arahnya dengan tiba-tiba, mungkin sempat memergoki kalau dia tengah memandanginya.
"Tas?"
Fajar manggut, masih menatapnya sambil menunggu jawaban.
"Oh, isinya banyak. Buku kuliah, baju, kaos kaki, pembalut, gunting, pisau lipat, karet gelang, topi, dan banyak lagi,"
"Kamu bawa tiap hari ke kampus barang-barang itu?"
"Iya."
"Aku heran, kamu itu mau minggat apa mau kuliah? Mosok tas kuliah isinya barang-barang begitu?"
Gadis itu tergelak. "Untuk jaga-jaga. Kadang-kadang pulang kuliah aku suka nongkrong di kampus, atau di rumah teman sampai malam untuk mengerjakan tugas.  Kadang-kadang ada laptop juga di tasku ini, punya temanku. Kalau lagi ada tugas kelompok dari dosen, aku yang kebagian ngetik," jelasnya kemudian.
Fajar menggeleng-geleng. "Aku jadi ingat temanku yang suka naik gunung. Gayanya persis kayak kamu itu."
"Oya? Aku juga suka naik gunung," ujarnya kemudian dengan penuh semangat.
"Apa?" Fajar tercengang.
"Kenapa? Kok kamu kaget begitu sih?"
"Kamu naik gunung?"
"Iya.Kenapa? Nggak percaya? Ya, udah, nggak usah dibahas, deh,"
"Prastiwi, serius, nih! Kamu naik gunung?Sama siapa?" wajahnya benar-benar berubah serius.
"Sama teman-temanku, lah! Mosok sendirian? Rame-rame. Kadang-kadang sampai dua puluh orang."
"Apa kamu nggak takut?"
"Takut apa?"
"Jatuh ke jurang, misalnya. Atau digigit ular atau serangga-serangga liar di hutan?"
"Insya Allah, nggak ada apa-apa. Kan, berdoa dulu sebelum berangkat?" jawabnya enteng
"Apa ibumu mengijinkan kamu melakukan kegiatan seperti itu?"
"Keberatan, sih. Dulu suka marah-marah setiap kali aku pamitan naik gunung, tapi lama-lama nggak tuh,"
Fajar nampak tertegun. Ada banyak tanya yang masih mengganjal di pikirannya berhubungan dengan ucapan Prastiwi tentang kegiatan naik gunungnya. Tapi ia menahan lidahnya untuk tidak menanyakan hal-hal yang justru membuatnya takut mendengar jawaban yang bakal dilontarkannya. Apa Prastiwi perokok? Apa dia suka minum-minum juga?  Mengingat bagaimana kegiatan di alam bebas, rasanya kemungkinan-kemungkinan seperti itu begitu dekat dengan kehidupan yang dijalani Prastiwi. Meski hati Fajar membantah keras dugaan itu, namun dalam hati kecilnya terselip kemungkinan sekian persen Prastiwi mengenyam kehidupan gelap seperti itu.
Seorang gadis yang terlihat begitu lugu, manis dan nampak kekanak-kanakan, entah apa yang terjadi dibalik wajah polosnya itu. Fajar mengingat apa yang telah dilakukannya dalam beberapa hari ini. Ia selalu menunggu  hanya untuk menyapanya dan bisa ngobrol lama seperti yang dilakukannya saat ini. Apa ia akan menunggunya lagi pada beberapa hari ke depan? Entahlah. Ia juga mengingat dosa terhadap mamanya. Beberapa kali ia mengelak mempertemukan mamanya dengan cewek di kantornya. Selvi, seorang sekretaris di kantornya itu sudah lama  menjadi pilihan mamanya untuk kelak menjadi pendamping hidupnya. (bersambung)

>=< >=< >=< 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar